Ingat Sejarah, Amir Sjarifuddin & Gembong PKI Yang Tertangkap di Desa Klambu

Advertisement

Ingat Sejarah, Amir Sjarifuddin & Gembong PKI Yang Tertangkap di Desa Klambu

Saturday, January 26, 2019

Amir Sjarifuddin
Kabar Klambu - Bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir, Amir Sjarifuddin adalah tokoh kemerdekaan republik ini. Pada zaman revolusi, mereka bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan. Dia seorang pejuang yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena mendukung pemberontakan partai komunis di Madiun.

Masyarakat Desa Prawoto yang mengerti kejadian pada 1948-an memiliki ingatan tersendiri terhadap penangkapan Amir Syarifuddin. Menjadi maklum bagi sebagian warga, pendiri Front Demokrasi Rakyat (FDR) ini dibekuk oleh tentara nasional di lokasi tidak jauh dari Desa Prawoto. Dikisahkan, dalam memburu kelompok Amir dan pentolan PKI lainnya peleton yang dipimpin oleh Lettu Lukie Anwar berhasil menangkap Amir Syarifuddin dan empat gembong partai komunis lainnya di Desa Klambu, Kabupaten Grobogan.

Desa Klambu memang berada di sebelah tenggara dari Prawoto, berada di jalan raya yang menghubungkan Kudus-Purwodadi-Solo (Jawa Tengah). Dari lokasi penangkapan, Amir Syarifuddin dan empat rekannya itu dibawa ke utara. Mereka lalu di interogasi di Desa Babalan, Kudus. Desa ini berada di sebelah barat Desa Klambu, berjarak 26 kilometer.

Dari Babalan mereka dibawa ke Yogyakarta, sebelum akhirnya ditembak mati di Solo pada 19 Desember 1948 pukul 23.00 wib. Kabar tertangkapnya mantan perdana menteri itu tersiar dengan cepat. Di beberapa titik, masyarakat berdiri di tepi jalan, menanti kedatangan mantan tokoh yang bergelar sarjana hukum ini dengan penuh geram. Mereka ingin melampiaskan kemarahan, atau sekedar melihat muka salah satu aktor penting dalam kerusuhan Madiun.

Kabarklambu.com akan sedikit mengingatkan kembali tentang sepak terjang para aktivis partai komunis. Dari sebuah penuturan seorang warga yang mengetahui akal-akalan (strategi) partai komunis dalam menggalang dukungan massa dari warga desa. Khususnya di desa-desa di sekitar pegunungan Kendeng di wilayah Pati dan Grobogan, yang selain bertani di sawah banyak pula dari para warga desa yang menggarap lahan hutan milik pemerintah. Di kawasan ini, banyak mandor alas (semacam polisi hutan) atau pegawai kehutanan yang merupakan seorang aktivis partai komunis.

Melalui wewenangnya itulah mereka membagi-bagikan lahan garapan kepada warga, para aktivis partai komunis ini memberi iming-iming bagian lebih banyak kepada yang mau bergabung dengan partainya. Sebaliknya, mereka yang enggan diancam tidak akan mendapat bagian.

Cara seperti itu terbukti ampuh melipat-gandakan jumlah keanggotaan partai komunis di wilayah setempat. Karena kuatir tidak mendapat lahan garapan, warga desa akhirnya bersedia didaftarkan sebagai anggota partai. Di atas kertas, partai komunis memiliki jumlah massa yang cukup banyak.

Karena hal inilah, pada akhirnya hingga kini ada orang-orang yang sejatinya tidak tahu menahu soal partai komunis, tetapi harus menanggung stigma sebagai penghianat bangsa karena bergabung menjadi anggotanya.