Seniman Kaligrafi Kubah Masjid Itu Ternyata Asli Brakas

Advertisement

Seniman Kaligrafi Kubah Masjid Itu Ternyata Asli Brakas

Saturday, November 24, 2018

Ma'ruf Samudro Art seniman kaligrafi asal Dusun Brakas, Terkesi
Kabar Klambu - Ketika berkunjung ke masjid-masjid besar saya kerap kali dikagumkan dengan arsitektur bangunan baik segi eksterior maupun interior. Bukti bahwa jika sudah menyangkut urusan rumah Allah, masyarakat Indonesia tak pernah setengah-setengah dalam membangun kemegahannya. Terutama dari segi interior yang kerap menggunakan kubah sebagai penutup atapnya. Pasalnya, kubah seakan menjadi identitas sebuah masjid agar bisa dikatakan megah, maka kubah tersebut haruslah berukuran besar.

Namun seiring berjalannya waktu, ukuran kubah saja tidaklah cukup untuk menggambarkan kemegahan sebuah masjid. Ya, hiasan-hiasan lafadz ayat suci Al-Quran hingga Asma'ul Husna wajib terpampang disana. Lalu pernahkah kalian berpikir atau setidaknya bertanya-tanya dalam hati ketika melihat hiasan-hiasan kaligrafi pada kubah tersebut bagaimana cara membuatnya? Mesin atau printer macam apa yang bisa menulis sedemikian rapinya dengan kondisi media gambar berada diketinggian dan tidak rata itu?

Belakangan dugaan tersebut menjadi salah kaprah ketika saya mengetahui ternyata kaligrafi tersebut adalah murni lukisan tangan manusia. Saya mengetahuinya secara langsung dari salah satu seniman yang menggeluti profesi sebagai spesialis pelukis kaligrafi di Kubah dan Mihrab masjid. Beliau adalah Ma'ruf dengan brand-nya Samudro Art. Sudah banyak rumah Allah yang dipercantik dengan karya-karya indah dan sentuhan emasnya. Yang lebih mengejutkan lagi, usut punya usut ternyata beliau asli kelahiran tanah Klambu, tepatnya Dusun Brakas, Desa Terkesi Kecamatan Klambu.

Berawal Sebagai Penjual Kaligrafi Keliling Untuk Nama Bayi

Ma'ruf mengawali karirnya dibidang seni Kaligrafi dengan sebuah perjuangan keras dan berat. Pernah bekerja kantoran selama 3 tahun, baliau tiba dititik terjenuh karena merasa pekerjaan tersebut bukanlah passionnya. Akhirnya dengan penuh pertimbangan, Ma'ruf kemudian mengambil keputusan penuh resiko ketika ia akhirnya memutuskan untuk resign dari tempat kerja yang telah menjadi lahan nafkah baginya selama 3 tahun untuk kemudian fokus menekuni seni kaligrafi. Ia mengawalinya dengan menjajakan jasa untuk melukis nama-nama bayi yang baru lahir sebagai hiasan dinding.

Namun ternyata tak banyak orang yang berminat terhadap jasa yang ditawarkannya itu. Berjalan dari satu pasar ke pasar lain, menawarkan dari satu orang ke orang lain tak satupun orderan melukis didapat. Tak ada pemasukan yang mengalir kedalam dompet, berbanding terbalik dengan pengeluaran yang kerap keluar hanya sekedar untuk membeli bensin kendaraan Astrea Grand yang dipakainya untuk menjajakan jasa melukisnya. Kondisinya semakin sulit karena saat itu ia berstatus sebagai seorang suami yang memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya. Bagaimana bisa memberi nafkah sedang pemasukan tak ada? Keputusan yang saat itu terlihat seperti sebuah keputusan yang salah kaprah ketika memutuskan untuk berhenti bekerja di koperasi.

Beruntung, dukungan dan doa sang istri yang tak pernah mengeluh atas kondisi ekonominya ity membuatnya mampu untuk terus menatap kedepan tanpa sedikitpun menoleh kebelakang untuk sekedar menyesali keputusan yang telah diambilnya. Bermula dari seorang kontraktor yang kala itu sedang menggarap sebuah masjid, sang kontraktor membutuhkan tenaga tukang cat sebagai bagian finishing dari proyek masjid yang dikerjakannya. Seperti sudah disetting oleh Allah SWT, Ma'ruf lantas muncul dan dipercaya oleh sang kontraktor untuk memborong pengerjaan cat sekaligus hiasan interiornya.

Tak mau menyia-nyiakan peluang, Ma'ruf dengan segala bakat dan kemampuan dibidang kaligrafi berhasil menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya tersebut dengan sangat baik. Hasil lukisan yang rapi, perpaduan warna cat yang pas dan tepat serta bentuk lukisan yang nyaris terlihat seperti nyata membuat sang kontraktor sangat puas dengan hasil kerja Ma'ruf. Dari situlah kemudian tirai mulai terbuka, tak dinyana-nyana sang kontraktor tadi merekomendasikan Ma'ruf ke rekan-rekan sesama kontraktor lainnya. Sebuah panggilan telepon diterima Ma'ruf beberapa bulan usai pengerjaan masjid pertama yang memberinya rejeki yang cukup untuknya dan sang istri. Telpon tersebut ternyata berasal dari seorang kontraktor yang mengetahui profil Ma'ruf dari kontraktor yang merekomendasikannya dulu. Meski berada diluar kota, tak menghalangi semangat Ma'ruf untuk menerima dan mengerjakam proyek pembuatan kaligfafi masjid itu.

Ma'ruf berpose dengan hasil karyanya (source: fb photo)
Kini, seperti sebuah pergerakan roda, posisi Ma'ruf yang mulanya berada dibagian terbawah telah melesat jauh keatas meninggalkan kehidupan yang terbilang sulit pada saat mengawali karirnya dulu. Karena karya-karya luar biasa yang ditorehkannya, ia kini tak pernah kekurangan job. Bahkan ia merangkul para pemuda dilingkungannya untuk turut bekerja dan membantunya dalam mengerjakan orderan yang sekarang mulai membuatnya kuwalahan dan jarang pulang.

Siapa yang menyangka, disebuah dusun kecil ditepian batas wilayah kecamatan ada seorang seniman dengan bakat dan kemampuan dalam melukis kaligrafi nyaris serapi dan sesempurna hasil tulisan komputer.