Masjid Tiban Desa Terkesi, Benarkah Jatuh Dari Langit? Ini Dia Sejarahnya

Advertisement

Masjid Tiban Desa Terkesi, Benarkah Jatuh Dari Langit? Ini Dia Sejarahnya

Wednesday, May 30, 2018

Masjid Tiban Desa Terkesi, Klambu
Kabar Klambu - Pernahkah kamu mendengar kabar bahwa di desa Terkesi Kecamatan Klambu ada sebuah masjid yang turun dari langit? Saya yakin diantara kalian pasti ada yang pernah mendengarnya dan mungkin juga hingga kini masih merasa penasaran bagaimana asal muasal mengapa masjid tersebut bisa dikatakan masjid yang jatuh dari langit.

Semua itu berawal di era Wali Songo, dari penemuan sebuah masjid secara misterius. Penduduk lantas menganggap masjid itu sebagai Masjid Tiban (jatuh). Namun belakangan diketahui masjid itu termasuk masjid bersejarah yang menyimpan banyak sekali karisma dan termasuk peninggalan Wali Songo, sang tokoh utama penyebaran Islam di pulau Jawa.

Banyak keunikan dari masjid purba kebanggaan warga Desa Terkesi ini, salah satunya adalah adanya tiang penyangga "sokotatal" milik Sunan Kalijaga. Dari situ tergambar simbol kebersamaan umat yang tampil dalam wujud yang tak terlalu menggebu-gebu, namun nyata.

Mulanya tak ada yang tahu masjid itu berasal. Penduduk tiba-tiba saja secara misterius menemukan sebuah masjid sederhana di atas bukit Candi Ketilang, yang masuk Kabupaten Grobogan masa kini. Hingga muncullah isu bahwa bangunan itu kemudian berpindah dan bergeser dengan sendirinya hingga sejauh dua kilometer ke sebuah dukuh bernama Kondowo. Lalu masjid ini pindah lagi sejauh satu kilometer hingga akhirnya sampai di Desa Terkesi, Kecamatan Klambu.

Cerita ini mungkin sedikit "kedongeng-dongengan", namun oleh penduduk setempat mempercayai kisahnya dan mewariskan secara turun-temurun hingga masjid itupun akhirnya diberi nama Masjid Tiban yang artinya masjid yang jatuh dari langit.

Usut punya usut, ternyata setelah diteliti semuanya itu berawal dari masa pembangunan masjid di Desa Glagah Wangi, yang kemudian menjadi semacam tonggak bagi sejarah masjid di pulau Jawa. Sebab Glagah Wangi itulah yang kemudian dikenal sebagai Demak, dan Masjid yang dibangun itu adalah Masjid Agung Demak.

Ketika para Wali memutuskan akan membangun Masjid Agung yang hendak dibangun dengan berbahan dari kayu jati, saat itu terjadi kendala, di sekitar Glagah Wangi tak terdapat hutan jati yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bangunan. Lalu diputuskan mengambil kayu jati dari daerah Klambu, yang masuk kawasan Kabupaten Grobogan saat ini. Pada masa itu kawasan tersebut belum berpenduduk. Lantaran membutuhkan banyak waktu untuk melakukan penebangan, para penebang kayu yang dikirim dari Demak lalu mendirikan masjid sederhana di tengah hutan jati untuk tempat beribadah mereka.

Setelah penebangan yang memakan waktu berbulan-bulan selesai, mereka pun kembali ke Demak dan meninggalkan masjid tersebut di tengah hutan. Masjid inilah yang kemudian ditemukan penduduk dan menganggap masjid tersebut “jatuh dari langit”.

Soal Masjid Tiban yang katanya berpindah-pindah itu tak lebih hanya sekedar dongeng yang berdasar pada urutan kronologis sejarah saat proses pembangunan Masjid Agung Demak. Tetapi memang, ada satu benang merah atau kesimpulan, bahwa sejarah masjid-masjid purba di Jawa dan Nusantara ini memang tak jarang melibatkan misteri dan kekeramatan yang diluar akal manusia. Karena kita semua meyakini, kemampuan Wali Songo yang mendapatkan Karomah langsung dari Allah SWT adalah nyata adanya.