Siti Aisyah, Penderita Hydrocephalus Asal Rejosari Grobogan Membutuhkan Uluran Tangan

Advertisement

Siti Aisyah, Penderita Hydrocephalus Asal Rejosari Grobogan Membutuhkan Uluran Tangan

Tuesday, January 23, 2018

Siti Aisyah Saat Digendong Sang Ibu
Kabar Klambu - Tubuh Siti Aisyah tergolek lemah di atas kasur. Meski usianya 12 tahun, namun mirip bocah berisia 7 tahun. Tubuhnya kecil. Lebih tepatnya mengecil. Hal itu disebabkan penyakit yang dialaminya, hydrocephalus.

Siti Aisyah sudah divonis menderita penyakit tersebut sejak usianya satu bulan dari kelahiran. Warga RT 1/RW 3 Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, ini bahkan sempat divonis tidak dapat hidup lama. Namun, berkat kebesaran Tuhan, Aisyah masih bernafas hingga kini di usia 12 tahun.

Meski begitu, anak kelima dari pasangan Sukarmin, 60 dan Kusmiyati, 45, ini tidak bisa apa-apa. Hanya terbaring di atas kasur. Untuk bergerak, makan, minum, mandi, buang air besar harus dibantu ibunya.

Penyakit hydrocephalus diketahui setelah diperiksakan orang tuanya sejak lahir. Aisyah lahir lewat operasi caesar. ”Saat saya melahirkan, dokter bilang anak saya ada kelainan di kepala. Selang selama satu bulan anak saya tiap hari nangis terus,” kata Kusmiyati, ibu Siti Aisyah.

Aisyah dilahirkan di RS Permata Bunda Purwodadi. Karena mengalami panas dan nangis terus menerus, dia diperiksakan ke RSUD R Soedjati Purwodadi. Dari rumah sakit tersebut dirujuk ke RS Elisabet Semarang dan divonis terkena penyakit hydrocephalus. Sejak itu, semakin hari badannya mengecil dan kepalanya membesar.

”Dulu pernah mau dioperasi RS Elisabet Semarang. Tetapi karena divonis tidak bisa hidup lama, maka operasi tidak jadi dilakukan dan masih saya rawat sampai sekarang,” ujarnya.

Dengan penyakit yang diderita Aisyah, sang ibu hanya bisa pasrah dan ikhlas. Dia mengaku, waktu kecil masih bisa menggendongnya. Namun sekarang sudah tidak kuat lagi menggendong lama-lama, karena berat badan Aisyah mulai bertambah, terutama kepalanya semakin membesar. ”Setiap hari anak saya butuh susu sebotol untuk sarapan. Lalu makan pada waktu siang dan sore harinya,” ujarnya.

Dia mengaku, saat ini perawatan anaknya dilakukan seadanya. Sebab, suaminya hanya bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta dan buruh tani ketika di rumah. Dia hanya mengandalkan biaya dari penghasilan suami yang tidak seberapa.

”Untuk bantuan dari pemerintah daerah atau sosial belum ada yang memberikan. Saya hanya merawat dengan uang penghasilan seadanya,” akunya.

Perawatan putrinya tersebut menjadikan dirinya tidak bisa pergi jauh-jauh. Sebab, butuh perawatan ekstra. Bahkan, ketika mau keluar belanja, ke pasar atau memasak, kakaknya harus menjaganya. ”Saat ini yang kami butuhkan adalah bantuan untuk membantu perawatan. Terutama beli susu untuk setiap hari,” tandasnya.

Pasangan Sukarmin dan Kusmiyati, memiliki lima anak. Yaitu, Asroin, 30; Ani Tri Astuti, 25; Erido Yuwanto, 17; dan Mei Fatmawati, 15; dan terakhir Siti Aisyah, 12. ”Pengobatan sudah lama saya lakukan. Saya pasrah jika diambil karena sudah lama saya rumati,” akunya.