Terimakasih Bu Karena Tak Selalu Menuruti Apa Yang Aku Inginkan

Advertisement

Terimakasih Bu Karena Tak Selalu Menuruti Apa Yang Aku Inginkan

Sunday, July 24, 2016


kabarklambu.com - Kisah ini diambil dari salah seorang pengguna akun sosial media Facebook bernama Andre Raditya. Simak kisah nyata yang akan menginspirasimu berikut ini

"SESUK YO LE..."
Sewaktu kecil, saya tumbuh dan akarab dengan lingkungan pasar. Karena Ibu saya berjualan es teh di pinggir pasar Klaten saat itu. Bagi kawan-kawan di Klaten, jika Anda tahu toko plastik "Sari Utama" di depan toko itulah ibu saya berjualan.

Setiap hari saya di sana, karena saat itu tak ada orang lain yg merawat saya. Bapak saya merantau mencari nafkah di kota yang lain. Ibu memenuhi kebutuhan harian kami dengan berjualan es teh.

Setelah sore. Kami pulang ke rumah kontrakan di wilayah bareng berjarak sekitar 2,5 kilo dari pasar (belakang SMP 6 Klaten). Dari pasar menuju rumah, banyak sekali toko-toko yang kami lewati dengan berjalan kaki mulai dari toko makanan, jajanan, sampai mainan.

Saat melewati toko mainan. Saya selalu berhenti. Namanya anak kecil kan selalu memiliki rasa ingin punya dan itu sifat yang hampir dimiliki setiap anak seusiaku waktu itu. Tiap berhenti sejenak saya melihat mainan yang dipajang berjajar sambil membayangkan punya salah satu dari mainan itu. Sekilas saya tidak peduli dengan yang lain, sampai ibu saya mendekati lalu berkata, "sesuk yo le.. (besok ya nak)". Dan kami pun lanjut berjalan lagi.

Saat melewati toko makanan juga demikian. Melihat ayam yg dibakar,  serasa ingin mencobanya, sekali lagi namanya juga anak kecil. Dan makanan yang demikian itu tidak tentu kami makan dalam sebulan sekali. Dan lagi, saya kembali terdiam dan melihat. Sampai kemudian ibu saya datang mendekat dan berkata lagi, "sesuk yo le.. (besok ya nak)". Dan kami pun berjalan lagi.

Melewati toko jajanan pun juga sama. Saya berhenti saat melihat barisan chiki ball yang dipajang di etalase toko. Dan sekali lagi, Kalimat ajaib "sesuk yo le.. (besok ya nak)",  Itu bisa membuat saya berjalan lagi.

Saya bersyukur dibesarkan dengan kalimat, "Besok ya nak" Karena kalimat itu sudah mengajarkan saya untuk bersabar, mengajarkan, bahwa tidak semua hal harus dimiliki saat ini jika memang belum mampu.

Meskipun sekarang saya baru tahu, bahwa kalimat itu terucap karena memang ibu tak cukup punya uang untuk membeli apa yang saya inginkan.

Kalimat itu juga yang menyadarkan saya sekarang. Bahwa ibu saya begitu hebat dan luar biasa. Seandainya saya tidak dididik dengan kalimat "Sesuk yo le.."
Mungkin saat ini saya akan menjadi pribadi yang tak sabaran, pribadi yang tak mengenal rasanya menahan diri, bersyukur dan berani berjuang.

Ini sekaligus bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Di tengah jaman yang serba penuh dengan barang mewah saat ini dengan mudah akan memancing kita untuk jadi gampang pingin.

Alhasil, bagi mereka yang tak sanggup menahan diri, pilihan singkat pun diambil. Mulai dari ngutang, nyicil, kredit dan apapun namanya yang sering kita dapati menjadi penyebab dari hancurnya kehidupan banyak keluarga dan hilangnya ketenangan dari banyak jiwa.

Insyaallah yakin saja, bahwa Rezeki kita ada jalannya. Sabar saja kawan, asal kerja keras, lalu pastikan harus halal, Insyaallah kelapangan rezeki akan hadir dalam kehidupan.

Tinggal sekarang, kita harus berani bilang ke diri masing-masing tatkala diri memang belum mampu memenuhi ini dan itu dengan kalimat "Sesuk yo le..."