Semenjak Pulang Dari Rantau, Dia Bukan Istriku Lagi

Advertisement

Semenjak Pulang Dari Rantau, Dia Bukan Istriku Lagi

Tuesday, June 7, 2016

selingkuh image by tribun makasar
Kami adalah sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah dengan landasan cinta setelah ribuan jalan terjal kami lalui termasuk tentangan dari orang tuanya. Atas nama ikatan cinta yang begitu kuat kami mampu merobohkan dinding tebal penghalang yang sempat hampir membuat kami putus asa, yaitu meyakinkan kedua orang tua kami untuk memberikan restu dan menjadi wali di pernikahan kami. Berkali-kali kami mampu melewati rintangan satu demi satu hingga akhirnya sampai ke pelaminan.

Hari yang kami nantikan akhirnya tiba dan semua terlihat sempurna. Ia terlihat begitu cantik dengan riasan gaun pengantin yang menyelimuti tubuhnya. Akupun dapat melihat pancaran kebahagian di wajah cantiknya, tak pernah aku melihatnya sebahagia ini selama kami menjalani hubungan dalam tahap pacaran. Dan aku juga tak mampu menyembunyikan ekspresi kebahagianku, kini aku merasa telah lengkap untuk disebut sebagai pria sejati. Para tamu undangan, teman dekat, kerabat dan saudara silih berganti mengucapkan selamat kepada kami. " hey... Kalian seperti halnya seorang Raja dan Ratu " bisik salah satu teman dekatku saat menjabat tanganku sembari mengucapkan selamat serta doa agar kami menjadi sakinah, mawaddah dan warahmah. Betapa indahnya saat itu.

Setahun setelah hari pernikahan kami, lahirlah putera kebanggaan kami hasil dari cinta sejati yang selalu mampu menyapu rintangannya dulu hingga sekarang ini. Kebahagiaan kami menjadi bertambah berkali lipat. Aku selalu tak sabar ingin segera sampai rumah setelah pulang kerja untuk melihat jagoanku dirumah. Aku semakin bersemangat ketika berangkat kerja dan tenagaku terasa bertambah menjadi seribu kali lipat, tak ada lagi rasa lelah apalagi keluhan. Hanya syukur dan syukur yang selalu ada di pikiranku atas hadiah Tuhan yang begitu menakjubkan dikehidupanku ini.

Hari terus berganti, akan tetapi perlahan kebahagiaan mulai sedikit demi sedikit hilang dan cenderung mengarah ke rasa bosan dan menghasilkan percekcokan kecil. Kami silih berganti memulainya, terkadang ia yang memulainya dulu, seperti saat aku pulang kerja dan kelelelahan namun malah omelan yang menyambutku ketika sampai rumah. Tak jarang pula aku mengeluh karena merasa bosan dengan masakan yang monoton dan itu-itu saja. Semua pertikaian itu selalu mengarah kepada satu hal, yaitu Ekonomi. Aku yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan dengan pekerjaan berat dan upah kecil sehingga tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk istri dan anakku, sampai akhirnya aku sering mendapat omelan ketika pulang kerja. Tentu saja aku mendapat omelan karena aku selalu mengeluh karena masakan istriku yang setiap hari selalu itu-itu saja.

Aku selalu berusaha berpikiran lebih dewasa dibanding istriku dengan tidak pernah membalas perkataannya saat ia mengomel dan sebisa munkin aku mempergiat kerjaku supaya mampu membuka mata bosku dan menaikkan upahku. Namun keadaan bukannya lebih baik tetapi semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya  malam itu hujan lebat dan anak kami tiba-tiba mengalami demam yang sangat tinggi disertai mimisan, kami panik dan segera membawanya ke rumah sakit. kami menunggu dengan gelisah didepan pintu kamar dimana jagoanku sedang diperiksa dokter. Tak berapa lama dokter pun keluar, dan Seperti tersambar petir, diagnosa yang aku dengar dari mulut dokter yang telah mengajakku keruangannya membuat seluruh badanku lemas, isteriku menangis sejadi-jadinya. Ya jagoanku telah menderita penyakit mematikan yaitu Leukimia atau kanker darah dan harus dilakukan operasi pencangkokan sum-sum tulang sebagai jalan agar ia bisa sembuh. Semua menjadi semakin sulit ketika kami diberitahu soal biaya operasi tersebut yang mencapai ratusan juta rupiah. Merupakan sebuah hal yang sangat mustahil mendapatkan uang sebanyak itu dengan profesiku yang hanya kuli proyek.

Diliputi emosi yang meledak-ledak diskusi antara aku dengan istriku menghasilkan keputusan yang sebenarnya tak ingin aku menerimanya. Ya, istriku memutuskan untuk mengadu nasibnya di negara orang untuk bisa memenuhi biaya operasi anak kami. Aku depresi dan merasa gagal menjalankan tugasku sebagai kepala rumah tangga. Sekuat tenaga ku yakinkan ia agar mengurungkan niatnya dan aku juga berjanji akan mencari pekerjaan tambahan agar berhasil mengumpulkan uang untuk biaya operasi anakku akan tetapi sedikitpun tak menggoyahkan keputusannya itu. terpaksa akupun merelakannya dan memberikan izin sebagai seorang suami yang tidak berguna setidaknya inilah yang bisa aku lakukan.

Saat istriku telah berada di luar negeri untuk bekerja, tugaskupun otomatis berubah dari pencari nafkah kini aku menjadi pengasuh dan merawat anakku. Aku tak bisa meninggalkannya walau semenit karena jika sesuatu terjadi padanya istriku pasti tidak akan pernah memaafkanku. Setengah tahun berjalan dan ia pun mengirimkan surat untuk pertama kalinya dan beberapa uang untuk biaya perawatan anakku di rumah sakit. Setelah membaca suratnya aku bersyukur bahwa ia sehat disana dan mengabarkan juga bahwa ia mendapatkan majikan yang baik. Surat itu sekaligus meredakan rasa gelisahku yang aku pendam sejak keberangkatannya dulu. Sejak dulu aku takut terjadi apa-apa dengannya disana mengingat ia tak pernah sedikitpun bekerja untuk orang lain selama ini.

Di sini tak henti-hentinya aku mendoakan agar ia dapat mewujudkan cita-citanya mengumpulkan uang untuk biaya operasi anak kami karena memang hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini. Aku pun juga menjaga anakku semaksimal mungkin tak kubiarkan sedetikpun perhatianku luput darinya. Melihat perkembangan anakku yang lumayan membaik aku pun berinisiatif untuk memberinya kabar melalui surat. Aku menulis secara lengkap apa saja yang terjadi disini termasuk nama dari perawat yang membantu merawat anak kami dan bahkan tukang parkir rumah sakit pun tak luput aku tuliskan namanya di surat itu dan tentu saja kabar intinya adalah bahwa anak kami sudah diperbolehkan pulang untuk dirawat dirumah sambil menunggu terkumpulnya uang biaya operasi. 

Belum genap satu bulan surat ku kirim istriku pun membalasnya. Namun apa yang aku baca dari surat balasannya sedikitpun tak menunjukkan rasa kebahagiaan. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengannya...

( Bersambung )