Sebuah Mimpi

Advertisement

Sebuah Mimpi

Thursday, May 12, 2016

Aku adalah salah satu penggemar film seram apa lagi yang berbau pembunuhan sadis.

Namaku Aditya, seorang pemuda yang baru saja lulus SMA kemarin sore dan sekarang sedang bermain game survival online yang mengangkat tema zombie.

Setiap hari aku lewati hanya dengan bermain game tersebut dan tidak lupa mandi juga makan-makanan yang menurutku baik untuk dikonsumsi, maklum aku hanya seseorang yang belum mendapatkan kesempatan kerja seperti pemuda lainnya.

Aku sangat fanatik dengan sosok zombie, bahkan ruangan pribadiku dipenuhi dengan aksesoris zombie dari mulai wallpaper hingga miniatur dan tak ketinggalan pula CD-CD film bertema zombie.

Sempat aku bermimpi tentang penyebaran wabah zombie di Kotaku. Wabah yang menyebar dengan sangat cepat, dimulai dari seorang pria separuh baya yang tiba-tiba jatuh tersungkur di jalanan beraspal.

Orang-orang yang berada di lokasi tersebut langsung berbondong-bondong menghampiri pria tersebut, dan diketahui pria tersebut tak sadarkan diri.

Seorang wanita muda dengan gaya heroik mencoba memberikan nafas buatan kepada pria tersebut namun yang terjadi, pria tersebut membuka kedua matanya dan menggigit wajah si wanita hingga wanita tersebut menjauh dengan rongga hidungnya yang mengeluarkan banyak darah.

Kerumunan pun mulai berlarian panik, semua liputan berita di televisi serta radio membahas persoalan kanibal di Kotaku.

Tak lama setelah gemparnya berita perihal kanibalisme,kota terasa sunyi, hanya terdengar geraman-geraman kecil yang membuat jantung berdegup kencang.

Sepintas aku mengingat, tak lama setelah siaran berita di televisi, aku melihat dengan sendiri Rina sahabat baikku memangsa Ditty peliharaanku.

Aku juga mengingat bagaimana buruknya rupa bibiku saat ayah membukakan pintu rumah untuknya. Bibi meraung dengan luka gigitan yang merenggut separuh lehernya, ayah bergerak mundur tetapi tak cukup cepat untuk menghindari terkaman bibi.

Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku ketika aku melihat bibi memangsa ayah dengan buas. Aku mengunci pintu rapat-rapat dan berusaha menenangkan deak jantungku yang terasa seperti bom waktu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, aku masih bersembunyi di kamarku meskipun terkadang aku harus mempertaruhkan jiwa untuk pergi mencari makanan.

Melihat segala kekacauan yang telah terjadi membuatku berpikir tentang damainnya hidup sebelum wabah zombie menyerang, dimana aku masih dapat bermain game dan bersantai sepanjang hari.

Aku tersentak, suara berbunyi 'GAME OVER' menyadarkanku, kulihat karakter jagoanku kalah dan dimangsa oleh para zombie, ku tekan tombol restrat pada ujung kanan atas layar.

Ya aku harap semua lamunanku hanyalah mimpi  namun geraman-geraman pada balik pintu kamarku menyadarkanku bahwa ini semua adalah nyata.

"End"