Perempuan Dibawah Hujan

Advertisement

Perempuan Dibawah Hujan

Wednesday, May 11, 2016

Sore itu hujan. Mendung yang singgah dilangit dari siang tadi belum mau hilang. Di sebuah hal te orang berdesak-desakkan berteduh. Ada yang tengah menunggu bus dan ada yang cuma berteduh saja. Seorang lelaki berpayung berlari tergesa-gesa menuju halte. Hujan yang bercampur angin tidak lagi efektif ditangani hanya dengan payung. Dia kebagian tempat paling pojok dan paling depan. “Duh enaknya orang yang kebagian tempat duduk” pikirnya.

Lelaki itu menggosok-gosok telapak tangannya. Menghembuskan nafasnya sesekali. Matanya berkeliaran memandangi seluruh orang dihalte. Wajah-wajah egois dan anti sosial tertera jelas dimuka mereka. Tidak ada sama sekali kegiatan selain melihat sekeliling sambil terus menggosok telapak tangannya yang basah dan berkerut.

Pandangannya tertuju pada sebrang jalan ini. Mata lelaki itu memicing ketika dia berusaha memastikan, apa yang tengah berdiri dekat tiang lampu jalan. Seseorang berambut hitam dan panjang. Dengan blazer dan rok hitam serta kemeja putihnya yang sudah basah kuyup“Ya ampun, seorang perempuan”. Dia menengok kanan-kiri, menunggu ada seseorang melihat dan menolong perempuan itu.

Hampir seperempat menit sampai akhirnya lelaki itu segera menyebrang. Dia menggerutu soal orang-orang zaman sekarang yang benar-benar apatis. Dia menghampiri perempuan itu, memayunginya dan mengajak perempuan itu ke halte. Tapi perempuan itu tidak menjawab dan tidak bergeming. Lelaki itu bertanya banyak hal seperti, ‘apa anda menunggu seseorang?’, ‘apa anda menunggu taksi?’, ‘tidakkah sebaiknya anda berteduh?’. Semua tanya hanya didiamkan. Lelaki itu semakin kedinginan karena sebagian tubuhnya terguyur hujan. Tapi dia tidak bisa meninggalkan seorang perempuan sendirian, kebasahan dan kedinginan. Cuaca ini mungkin saja bisa membunuhnya.

Lelaki itu mendesah dan memegang tangan perempuan itu. Si lelaki kaget sebab tangan perempuan itu sangat dingin. Dia segera menuntun perempuan itu perlahan untuk menyebrang jalan. Ternyata perempuan itu mau jika dituntun. Mereka sampai di halte dan menunggu bus datang. Bus si lelaki datang lebih awal, dia masuk dan menatap perempuan itu dari jendela. Si perempuan tersenyum dan melambai. Si lelaki senang dan lekas membalas lambaian. Muka perempuan itu pucat pasi, mata sebelah kirinya tertutup kapas.

Keesokannya si lelaki kembali tergesa menuju halte. Hujan deras kembali mengguyur jakarta sore itu. Warna awan yang gelap dan langit hampir tak ada bedanya. Mata lelaki itu terus mencari seseorang disebrang jalan. Tapi dia tak juga menemukannya. Tiba-tiba tangan dingin menggenggam tangan lelaki itu. Lelaki itu menoleh dan sedikit kaget melihat perempuan yang kemarin tiba-tiba ada disebelahnya. Si lelaki memulai percakapan dengan basa-basi, berbicara kesana-kemari tentang musim hujan, angin kencang dan wabah penyakit flu. Tapi sepanjang penjelasan si perempuan tidak sekalipun memotong –padahal si lelaki berharap omongannya dipotong.

Si lelaki mendesah dan jujur mengatakan jika dia kehabisan topik pembicaraan. Perempuan itu mulai membuka mulut. Dia suka hujan karena pertemuan dengan kekasihnya terjadi saat hujan. “Dan disebrang jalan ini dekat lampu jalan, tempat kemarin kau menghampiriku. Yang dia lakukan pun sama, menghampiri lalu memayungiku dan mengajakku menyebrang menuju halte” senyum perempuan itu kembali merekah. Setelah itu mereka berdua membiarkan deras hujan mengisi sisa waktu, dan tangan mereka masih saling menggenggam.

Keesokannya lagi si lelaki bertemu si perempuan. Perempuan itu bercerita mengenai kapas lembut yang dia pakai sebagai penutup mata kiri “ini kenang-kenangan sebelum akhirnya kami putus”. Lalu dia mulai mengisahkan kekasihnya yang sangat suka mengoleksi. Berkali-kali si lelaki bertanya ‘apa yang mantan pacarnya koleksi?’, perempuan itu tidak menggubrisnya. Hujan kembali mengisi sisa percakapan.

Keesokannya lagi si lelaki tergesa menuju halte. Hujan dan angin sore itu benar-benar tak bisa diajak kompromi. Matanya berkeliaran mencari perempuan itu dihalte. Sejurus kemudian si lelaki tak kunjung menemukannya. Matanya kembali memicing dan melihat disebrang jalan, tepat samping lampu jalan, perempuan itu tengah berdiri. Si lelaki terburu-buru menyebrang. Dia hampir tertabrak mobil truk jika saja supir truk itu tak menginjak rem. Supir truk terus memakinya dan si lelaki pun meminta maaf padanya.

Urusan itu selesai. Dia menghampiri si perempuan. Sementara supir truk masih saja menggerutu sambil melajukan mobilnya. Si lelaki memayungi perempuan itu. Kali ini dia sesenggukan, “apa yang terjadi?” si lelaki bingung. Tapi perempuan itu tak menjawab. Si lelaki mendesah dan menerka-nerka jika ini pasti ulah mantan kekasihnya si perempuan. Dia terus menganjurkan agar perempuan itu bersabar.

Si perempuan berhenti menangis lalu menengok pada lelaki itu. Dia tersenyum dan memegang kapas dimatanya. Si lelaki membalas senyumnya. Lalu kapas itu mulai ditarik dan menampakan rongga besar dibalik kapas itu. Si lelaki terlonjak dan jatuh terduduk, dia beringsut mundur sambil memperhatikan mata kiri perempuan itu yang benar-benar sudah tidak ada. Si perempuan tersenyum sambil terus berjalan ke arah si lelaki.

Seseorang menepuk bahu si lelaki, dia menoleh. “Anda tidak apa-apa tuan?” seorang lelaki berkacamata membantunya berdiri.

“Tidak, tidak hanya saja didepanku, anda pasti tidak percaya."

“Saya percaya, saya juga bisa melihatnya. Ayo pergi, dia tidak akan mengganggu kita jika kita pergi”. Mereka pergi menuju kedai bakso yang cukup jauh dari situ. Lelaki berkacamata itu memperkenalkan dirinya “saya andre. Kebetulan saya punya indra keenam sehingga bisa melihat hal-hal begitu. Sejak awal saya sudah memperhatikan anda. Tadinya saya pikir hantu itu cuma mau berteman. Tapi hari ini dia ingin menyerang anda. Saran saya, besok anda jangan mengajaknya bicara lagi, abaikan saja dan dia akan pergi sendiri.” dia membelah bakso dimangkuk lalu memakannya.

Hujan sudah reda ketika mereka akan pulang. Andre memberi lelaki itu kenang-kenangan, sekantung kecil kapas. Sebab dia adalah buruh dipabrik kapas jadi cuma itu yang andre bisa berikan.

Malam itu ketika si lelaki tengah tidur. Tiba-tiba dia terbangun tanpa sebab. Dia melirik jam yang menunjukan pukul dua dini hari. Dia terduduk lesu berharap kantuk kembali datang. Tiba-tiba sesuatu berkelontangan di dapur. Dia merogoh laci meja samping kasurnya dan mengambil pistol. “Mungkin saja itu maling” pikirnya. Tangannya perlahan membuka pintu. Dia melihat melalui sedikit celahnya –dan tidak ada siapapun.

Lelaki itu membeku ketika tangan dingin seseorang membelai pipinya. Lelaki itu menoleh dan lekas beringsut mundur. Pada hadapannya, perempuan bermata satu itu berdiri dan tersenyum padanya. Kulitnya yang pucat pasi dan kurus kering membuat tenggorok lelaki itu tercekat. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Perempuan itu berjalan ke arahnya “kau tahu apa yang dikoleksi mantan kekasihku” dia memasukan tangan kedalam mata kanannya, mencungkil mata bundar itu dengan amat mudah dan lalu melemparkannya pada si lelaki. Lelaki itu muntah. Urat-urat beruraian dan berjuntai keluar dari mata kanannya “dia senang mengoleksi mata. Tapi sayangnya dia lebih suka mata kiri”. Perempuan itu menghampiri si lelaki, memungut bola matanya dan memasangnya kembali dikanan. Dia mengambil sekantung kapas pemberian andre dan melemparkannya ke wajah si lelaki “kau adalah korban selanjutnya”. Si lelaki memperhatikan plastik bungkus kapas itu. Tidak jelas apa nama perusahaannya, hanya ada logo bergambar satu mata dan sebuah tulisan tertera diatasnya “aku butuh matamu”.