Kenapa Kau Masuk Kedalam?

Advertisement

Kenapa Kau Masuk Kedalam?

Wednesday, May 11, 2016


Jacinda dan agung mengajakku pulang lewat jalan lain. Jalan yang tidak biasanya kami lewati ketika pulang sekolah. Karena sekolah kami berada didalam perumahan, jadi banyak jalan untuk menujunya. Mengetahui hal itu, akupun tidak sungkan dengan ajakan mereka.

Dijalan jacinda membelikanku batagor, itu karena aku telah mau menerima ajakannya. Karena agung iri, jacinda kembali merogoh sakunya dan membelikan agung batagor. Kami lewat jalan berlawanan dari yang biasanya. Memang nantinya akan memutar, tapi anggap saja ini untuk menghabiskan waktu diluar rumah. Dibanding menonton televisi atau didepan komputer seharian, jalan-jalan seperti ini lebih menyenangkan.

Banyak rumah yang tampak kusam dijalan yang kami lewati. Rumah yang tidak laku terjual dan tua dimakan waktu. Pekarangan sudah ditumbuhi ilalang, seluruh cat tampak kusam, atap rumah banyak yang bolong bahkan kaca jendela banyak yang hilang. Ulah para berandal, mereka pasti mencuri dan menjualnya ke tukang rongsok.

Tidak jarang pada beberapa tembok ada coretan-coretan para berandal. Kebanyakan bertulis ‘Disini ada setan’. Semua rumah dijalan ini memang terlihat mengerikan. Kusam, dinding yang melapuk, ilalang yang memenuhi pekarangan, atap yang bolong-bolong –tidak perlu diragukan lagi.

Tiba-tiba jacinda berlari menuju salah satu rumah dikiri kami. Pintunya terbuka karena menggantung timpang pada satu engselnya. Jacinda berbalik dan meneriakki kami berdua lelaki pengecut, lalu dia masuk. Agung merampas topiku dan berlari menyusul jacinda. “Dasar anak-anak” aku ikut berlari dan melangkah masuk.

Saat pertama masuk, aku yakin jika rumah ini pernah ditinggali, bukan rumah rusak yang tak laku dijual. Pada dinding lorong yang kulalui, banyak bingkai yang memuat foto perempuan. Pigura-pigura itu amat berdebu sehingga aku malas menyentuhnya. Beberapa foto selalu menampakan wajahnya. Rambutnya dikepang dua dan berwarna pirang. Dia selalu tersenyum ketika difoto. Ketika makan, piknik, bermain piano dan pada satu foto dia sedang berdiri disamping rak pajangan.

Banyak rekahan dilantai rumahnya, beberapa kali aku tersandung. Tiba-tiba jacinda berteriak. Aku tergopoh mencari asal suara. Agung yang berada didepanku berbelok dan masuk sebuah ruangan tak berpintu. Ketika aku melewatinya, jacinda tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu terus tertawa sampai akhirnya ada suara gedebuk dari ruang sebelah dan kami semua terdiam.

Agung berjalan keluar ruangan lebih dulu, dibelakangnya aku lalu jacinda. Kami memasuki ruang sebelah yang juga tak berpintu. Kayu-kayu berserakan dan beberapa benda yang kukenal juga berserakan diatasnya. Benda-benda itu adalah pajangan didalam foto terakhir tadi. Berarti kayu-kayu itu adalah rak pajangan yang lapuk lalu terlepas dari tembok. Agung terkesan dengan salah satu pajangan yang berbentuk burung garuda “Sepertinya dari perak” lalu agung memasukannya ke tas. Aku sudah memperingatkan sebelumnya, tapi dia tidak menggubris dan kembali menemukan pajangan dari balik tumpukan kayu. “Hey lihat, pajangan dari perak lagi” agung menunjukan pajangan gitar berwarna keperakan lalu dia kembali memasukannya ke tas.

Setelah puas dengan ruangan itu, kami menelusuri semua ruangan. Aku jadi tahu tempat-tempat foto tadi diambil. Ruang makan, ruang tamu, dan terakhir ruang kamar si perempuan dalam foto. Kamarnya sudah kosong, mungkin seluruh barang dalam kamar ini sudah dibawa saat mereka pindahan. Jacinda sudah bosan dan agung sepertinya sudah puas mengambil barang, jadi kami bergegas pulang.

Baru saja kami meninggalkan kamar, sesuatu kembali berdebam. Kami menoleh bersamaan, dinding kamar itu runtuh. Batu batanya masih berjatuhan ke lantai dan tampaknya tembok itu sangat tebal. Kenapa? sebab itu bisa mengubur sebuah mayat. Aku yakin itu kerangka manusia. Posisinya tengah meringkuk dan itu terjatuh menggelincir ke reruntuhan tembok. Jacinda teriak sangat kencang sampai memekakan telingaku. Agung membekap mulutnya. Aku mendekati reruntuhan. Tulang-belulang itu memang benar-benar kerangka manusia.

Kami mesti memberi tahu polisi. Kami bergegas keluar rumah namun sesuatu kembali menghalangi. Diujung lorong yang jauh, dipintu keluar satu-satunya dari rumah ini, seseorang berdiri. Wajahnya pucat pasi dan sangat tirus, rambutnya yang pirang dikepang dua, amat tidak asing bagiku –dia perempuan difoto. Dia berlari ke arah kami, jacinda kembali teriak, aku menyentaknya menuju kamar tadi. Tapi ternyata tidak ada jendela. Ketika aku berbalik untuk mencari kamar lain, si perempuan kini melata didinding, melata sangat cepat, mulutnya menganga lebar sampai tenggorokannya begitu jelas terlihat. Kami menuju dapur dan berlari ke pintu belakang. Agung paling belakang, dia terus berteriak jika perempuan itu makin cepat. “Dia melata diatas kita” agung menyentak tanganku. Aku mendongak dan melihat rambut perempuan yang berjumbai-jumbai itu dan dia melewati kami.

Dia melompat dan berdiri menghalangi pintu belakang. Mulutnya menganga dan dia kembali berlari. Kami memutar arah secepat-cepatnya. Jantungku berdebar, aku melepaskan tangan jacinda dan mendahului agung. Aku berada paling depan, melewati pintu dan berhasil keluar rumah. “Apa batagornya enak?” si perempuan menangkap kaki kedua temanku. Aku terpaku diluar, memandangi jacinda dan agung yang terus berteriak karena kakinya diseret mahluk itu menuju kamarnya.

Aku terpaku...terengah...
Seseorang menepuk bahuku, lekas aku menengok.

“Kenapa kau masuk kedalam?” agung penasaran.

“Kau tahu jika rumah ini sangat angker-kan?” jacinda menimpali.

Aku menggeleng untuk keduanya, kupeluk mereka berdua “Kita mesti lapor polisi”.

...

Sehari setelah laporan kami, rumah itu diperiksa polisi. Tulang belulang itu ternyata kerangka si perempuan berambut pirang. Menurut polisi, perempuan itu sudah lama hilang. Kerangkanya kini sudah dimakamkan. Beberapa minggu setelah itu, di meja belajarku ada sekantung plastik  batagor dan kertas bertuliskan ‘terima kasih’. Kurasa perempuan pirang itu masih mengikuti. Mulai kini, aku tidak bakal lagi masuk ke rumah kosong dengan pintu yang terbuka.


Baca cerita lainnya :