Dibelakang Ayah

Advertisement

Dibelakang Ayah

Thursday, May 12, 2016

Aku, siapa aku? Aku hanyalah seseorang pekerja keras, sampai si sialan itu memecatku dengan alasan yang tak masuk akal, yaitu karena adanya karyawan baru. Tapi aku belum memberitahu keluargaku. Aku memilik satu anak laki laki, dan istri yang baik. Dia sangat menyayangi anaknya begitu pula denganku dan terlebih lagi dia memiliki senyuman yg benar benar indah

Saat anak ku sedang tidur dia bilang dia ingin biara denganku, dia bilang dia sudah tahu kalau aku sudah tidak punya pekerjaan lagi, dia mengatakan bahwa aku seharusnya bekerja lebih keras. Aku benar benar marah dengan kata katanya itu.

"Apa? bekerja dengan keras?! kau tahu, aku bekerja lebih keras dari yang kau kira, dan bajingan itu memecatku".

"kenapa kau marah padaku jika kau bekerja keras tentu dia tidak akan memecatmu kau pikir aku bodoh".

"diamlah dasar sialan!". Kubentak dia

Plakkk!!!. tangannya melayang ke arah pipiku. Karena benar-benar kesal tanpa sengaja aku mendorongnya dengan penuh amarah, dan sialnya kepalanya terbentur oleh dinding dengan sangat keras dan kulihat darah mengucur deras keluar dari kepala, hidung dan juga telinganya.

Aku hanya bisa terdiam dan merasa bersalah. "anakku! bagaimana nanti jika anakku mengetahuinya". karena memikirkan hal itu aku mulai bepikir di luar akal dan logika. aku membawa istriku jauh kedalam hutan dan menguburnya di sana,kemudian membersihkan darahnya tanpa sadar,kalu matahari sudah terbit.

anakku terbangun dan keluar dari kamarnya. aku benar benar takut, aku bahkan kesulitan menyembunyikan ekspresi wajahku. tapi, dia malah tertawa, tertawa tanpa henti.

aku membuatkannya sarapan, saat aku dan dia duduk berdua utk sarapan, aku menanyakan sesuatu padanya.

"nak, aku ingin memberitahu sesuatu padamu jadi jangan bersedih ya".

"memberitahu apa ayah?".

"ibumu sudah meniggal".

dia tak menangis, terkejut, atau berteriak tapi dia malah, malah tertawa. Aku sendiri juga tak habis pikir dan aku menanyakannya...

"ke..kenapa kau malah tertawa hah?"

"ayah sedang bercanda kan, ibu berada di belakangmu, dia sedang tertawa".

"hah?" jantungku seperti membeku.